Seminar Media dan Minoritas

Media Mainstream dan Media Alternatif (Mulai dari Diri Sendiri)

07.37 Lailiya Nur Rokhman 6 Comments


Seringkah anda menilai seseorang hanya dari penampilannya saat pertama kali melihatnya? Pernahkah penilaian anda ternyata salah terhadapnya?
Pernahkah anda langsung mempercayai apa yang anda baca di media?Pernahkah yang anda percayai dari media ternyata tidak sepenuhnya benar?Dan, apa yang sudah anda lakukan untuk mengubah penilaian itu?

Sering kali saya merasa kurang nyaman saat bertemu dengan orang lain yang cukup berbeda dengan saya atau saat mereka memandang saya dengan tatapan berbeda. Apalagi ketika saya masih di kendaraan umum saat malam hari, atau saat saya di ruang tunggu seperti saat ini. 
Well, saya sendiri merasa tidak ada yang istimewa dari diri saya. Hanya saja terkadang, ketika orang menjadi kaget saat tahu saya seperti apa, ada jarak kemudian yang dibuat, entah dari saya atau dari mereka.
Seperti halnya kemarin, saat saya ingin melihat bagaimana pengemudi perempuan saat bekerja. Ketika saya memperkenalkan diri dan bermaksud hanya ingin mengobrol, ada penolakan saat itu. Dan itu tidak hanya terjadi satu kali, tapi tiga kali. Sejenak saya berfikir, adakah yang salah dengan saya, ucapan saya, atau sudut pandang saya melihat mereka? Dan sepertinya saya terlalu terpaku pada informasi yang saya dapatkan sebelumnya dari media mengenai mereka.

Namun, bagaimanapun juga hidup kita memang tidak bisa lepas dari media. Beragam informasi kita dapatkan dari media. Dn pernahkah anda merasa percaya begitu saja dengan berita yang ada di media? Bagaimana jika ternyata yang anda baca tidak sepenuhnya tepat?

Apa yang ditayangkan dalam media tidak bisa begitu saja kita ambil dan percayai. Kita perlu melihat kembali dan mencari tahu lebih banyak tentang apa yang disajikan.
Misalnya saja, sebuah program semacam reality show (yang dulu pernah tayang) yang mengisahkan tentang seorang artis mengunjungi sebuah daerah terpencil dan ikut dalam keseharian mmasyarakatdaerah tersebut, termasuk kegiatan adat yang mereka lakukan. Jika kita tidak mencari tahu lebih banyak, kita akan berpikiran bahwa masyarakat daerah itu lebih primitif daripada kita atau segala stigma negatif muncul kemudian.

Sebagian media mainstream saat ini, menurut saya, masih cenderung memihak satu kaum. Dan kehadiran media alternatif kemudian diperlukan untuk kita melihat kembali bagaimana sebenarnya kaum minoritas dan dengan demikian kita bisa setidaknya belajar untuk mengetahui apa yang seharusnya kita lakukan. Sebagaimana yang dikatakan Chris Antton dalam Media Alternatif, media besar cenderung memperdebatkan kelompok minoritas dan adanya media altenatif seharusnya bisa menjadi wadah untuk melihat itu dari sudut pandang yang berbeda.

Menurut saya, adanya media baru kini bisa menjadi jalan untuk memperluas fungsi dari media alternatif. Yang menjadi pertanyaan adalah apa yang kita, khususnya yang berasal dari kalangan mayoritas, lakukan terhadap kaum minoritas dengan kehadiran media alternatif. Bagaimanapun pendapat kita, setidaknya jangan sampai kita mendiskriminasi mereka.



Referensi:
Approaching alternative media: theory and methodology. Alternative Media bab 1, Chris Atton. 2002.

You Might Also Like

6 komentar:

  1. Perbedaan itu keniscayaan ya lail, dimanapun dan kapanpun juga Ia pasti ada. Sama halnya seperti perbedaan pendapat akan suatu hal yang seharusnya tidak menutup diri kita untuk mencoba mengerti dari sisi yang berbeda dari kita. Hingga bukan lagi benci yang dipelihara, tapi perasaan saling mengasihi sebagai sesama manusia. Walaupun dalam kondisi berbeda..

    dan memang sulit untuk bisa mnegerti dari sisi berbeda di dunia nyata, kadang ada perasaan enggan, penolakan dari diri maupun dari orang yang bersebrangan dengan kita. Disinilah barangkali kehadiran media alternatif ini menjadi penting sebagai jembatan yang bisa membuat kita melintasi dunia lain yang bukan sebagai dunia yang selama ini kita anut dan kita fahami..dan lantas melihat dari sisi tersebut sebuah sudut pandang yang berbeda.

    BalasHapus
  2. Terkadang justru media alternatif bisa dijadikan alat bagi kelompok yang termarjinalkan untuk melakukan tindakan radikalisme, dan berbahaya bagi stabilitas negara. Bagaimanapun tetapi media mainstream tetap tidak bisa merangkul semuanya, apalagi jika bergerak dengan dasar 'keuntungan'. Menurut saya, media alternatif semakin mengukuhkan perbedaan kelompok minoritas dan memisahkan mereka dari mayoritas. Tidakkah lebih baik menciptakan kolom-kolom khusus minoritas dalam media mainstream, sehingga kita bisa berjalan dalam satu nafas bersama-sama?

    BalasHapus

  3. https://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&rct=j&url=https://www.aspeninstitute.org/content/uploads/files/content/docs/cands/DIVERSITY.PDF&ved=0ahUKEwifqZimzpnUAhXJQY8KHRCvAxEQFggeMAE&usg=AFQjCNEFgX9IKe4p4t6i9lap7BdyjAJJoA&sig2=otI-1Qb8CySW9giucM-PKA
    Berbicara


    Untuk menambah wawasan kita semua mengenai media alternatif dan media mainstream dan peranan kaum minoritas..

    BalasHapus
  4. Media mainstream mayoritas dikuasai kelompok.dominan sehingga mereka berupaya melanggengkan dominasi mereka lewat media yang dimiliki. Mereka (media mainstream) menempatkan diri mereka sebagai yang berasal dari 'dunia pertama' untuk melihat kelompok minoritas sebagai mereka yang berasal dari 'dunia ketiga' dengan sudut pandang 'dunia pertama' sehingga tercipta stereotipe, prasangka terhadap mereka yang menyebabkan mereka teropres dua kali kurang lebih begitu ya lail..menarik ya perkembangan media baru menjadikan ada media alternatif untuk kelompok minoritas

    BalasHapus
  5. Informasi apa memang yang sebelumnya mba lail lihat di media? Dan saya menjadi penasaran, bagaimana media alternatif ini bekerja dalam menyorot minoritas? Soalnya mba lail tidak menjabarkan secara lebih mendalam mengenai media alternatif ini. Apakah aspirasi kaum minoritas benar-benar terwakili dalam media alternatif tersebut?

    BalasHapus
  6. Menurut saya, artikelnya mbak Lailiya di atas terkesan tanggung dan belum selesai dibahasnya. Ada beberapa contoh tulisannya mbak yang belum selesai, pertama dari cuplikan tulisan: ‘hanya saja terkadang, ketika orang menjadi kaget saat tahu saya seperti apa, ada jarak kemudian yang dibuat, entah dari saya atau dari mereka.’ Pertanyaannya, kenapa orang lain terlihat kaget ketika mengetahui mbak seperti apa?, lalu memangnya ada apa dengan mbak sehingga membuat orang lain menjadi kaget? Selanjutnya, ada cuplikan tulisan lainnya yang belum diselesaikan pembahasannya: ‘seperti halnya kemarin, saat saya ingin melihat bagaimana pengemudi perempuan saat bekerja. Ketika saya memperkenalkan diri dan bermaksud hanya ingin mengobrol, ada penolakan saat itu. Dan itu tidak hanya terjadi satu kali, tapi tiga kali. Sejenak saya berfikir, adakah yang salah dengan saya, ucapan saya, atau sudut pandang saya melihat mereka? Dan sepertinya saya terlalu terpaku pada informasi yang saya dapatkan sebelumnya dari media mengenai mereka.’ Pertanyaan saya, informasi seperti apa yang mbak dapatkan dari media terkait pengemudi perempuan?, please share dong.
    #041, #SIK041

    BalasHapus

Kirimkan ini lewat Email
BlogThis!
Berbagi ke Twitter
Berbagi ke Facebook
Berbagi ke Google Buzz