Tampilkan postingan dengan label Traveling. Tampilkan semua postingan

Traveling Again..... :D

Mendaki gunung lewati lembah....
Sungai mengalir indah ke samudra.....
(malah nyanyi...)

Gak akan bisa deh kalau gak mensyukuri keindahan alam yg selalu bikin takjub....
Habis Bromo yg penuh debu n berbasah-basah ria di Gili Ketapang.... sekarang waktunya Gunung Kelud beraksi....
:D

Menyempatkan diri liburan sehari, aku mutusin buat pergi ke rumah om yg di Blitar. Berangkat malem dari Malang, berharap besok paginya bisa ke Gunung Kelud... :)
Kebetulan rumahnya gak begitu jauh dari Gunung Kelud. Bisa dibilang di lereng Gng Kelud malah. Perjalanan k rumahnya aja udah serasa offroad. #berlebihan.
Tapi memang jalannya begitu. Kita malah akan lewat sebuah sungai lahar untuk sampai k ke rumahnya (gak kebayang kalau meluap gimana ya?)

Paginya, kita udah siap berangkat....
Cuma butuh 15 menit untuk sampai ke Gng Kelud. Sebenernya 5 menit aja cukup, tapi kita lebih memilih jalan memutar, karena jalan yang biasanya dilewatin lagi ada perbaikan. Saat perjalanan aja udah dibikin takjub, apalagi saat kita sampai....
Satu kata, keren!
Ini Isvi, sepupu aku....


pemandangan saat masih di jalan


jalan yg udah kita lewatin diliat dari atas...


itu jalan ke arah gunung....
Pas kita udah sampai, ternyata udah rame. Padahal itu masih jam 6an pagi.... 

sajian flying fox saat baru masuk
Kita menyisiri jalanan sampai di tempat anakan Gunung Kelud yang sebenarnya dulu itu danau, sebelum meletus..
Sayangnya aku gak pernah tau bentuk danaunya seperti apa..


mulai naek....


puncak yg qt liat pas perjalanan tadi...
sebelum ke puncak, kita harus lewat terowongan dulu...
ini terowongan yg dibangun pas jaman penjajahan Belanda untuk jalannya lahar... sampek sekarang....

terowongan untuk nembus gunung...
hahaha
Kita sampai dah di anakan Gunung Kelud..... Dulunya ini danau yg airnya jernih.....
ada jalan turun tuh, tp skr dah g ada apa-apa lagi di bawah....
Anakan ini berisi magma yg panas sangat pastinya....
Tuh sampek asapnya ngepul...
ini nieh anakan gunungnya....


pas kita turun, kita ngelewatin bukit yg kita liat pas d jalan tadi....
ini yg dulu didaki sama tim 'jejak petualang'.....

Kita pulang sekitar jam 9an. itu pun makin rame.....
Lumayan capek menyusuri jalan disana....
Tapi semua serba bikin takjub kok... Terbayar...




Underwater...

Hal lain yang aku suka dari laut adalah beraneka macam spesies yang ada di bawah laut....
ini ada beberapa foto ekosistem bawa laut di Gilli Ketapang, Probolinggo....





 




 


pokoknya kalian gak bakalan nyesel diving disana......

Surfing? Disini Surganya....



Anda tinggal di Pulau Jawa, khususnya Jawa Timur? Suka berselancar? Ingin ke tempat berselancar yang indah? Tak usah jauh-jauh ke Pulau Bali karena anda akan menemukan sebuah “surga” bagi peselancar di Jawa Timur.

"Tak ada yang seindah ombak Plengkung...." Itu komentar dari wisatawan di pantai Plengkung saat ditanya tentang pantai ini. Mereka mengaku sangat puas dan betah berlama-lama di pantai yang dijuluki "G-Land, The Sevent Giant Waves Wonder" ini.

"G-Land, The Seven Giant Waves Wonder", julukan yang diberikan wisatawan asing untuk pantai yang terletak di Banyuwangi, Jawa Timur, tepatnya di sebelah selatan Taman nasional Alas Purwa (TNAP), yaitu pantai Plengkung. Pantai ini sangat cocok menjadi salah satu daftar tempat kunjungan anda, terutama bagi yang suka berselancar karena pantai di sini termasuk empat lokasi terbaik di dunia untuk kegiatan berselancar dan dapat disejajarkan dengan lokasi surfing di Hawai, Australia, dan Afrika Selatan. 
“G” dalam G-Land sendiri memiliki tiga arti:
1.      Green, karena lokasinya di tepi hutan atau biasa disebut Alas Purwo,
2.      Grajagan, nama point terdekat sebelum kita sampai ke pantai Plengkung, dan
3.      Great, karena salah satu ombak terbaik di dunia.

Pantai ini akan membentuk lengkungan seperti huruf G terbalik kalau dilihat dari citra satelit. Posisi itulah yang membuat ombak setinggi 4-6 meter bisa terbentuk. Para peselancar bisa merasakan sensasi dorongan ombak yang panjang dan susul-menyusul. Ombak setinggi 4-6 meter sepanjang 2 km dlm formasi 7 gelombang bersusun "go to left" ini cocok ditunggangi oleh peselancar kidal. 



Dasar pantai G-land berbentuk landai. Palung hanya ditemukan di sisi barat, yang pernah menjadi lokasi pendaratan kapal. Posisi ini membuat G-land nyaman sebagai tempat surfing. Namun, di balik keelokannya tentu perlu kehati-hatian tersendiri. Pasalnya, karang yang berada di dalam laut bisa melukai peselancar di dalam air. 


Untuk mencapai pantai ini, ada beberapa jalur yang bisa diambil:
1.   Dari Surabaya menuju Banyuwangi Kota (sekitar 5-6 jam), lalu dari Banyuwangi menuju ke selatan melewati Kecamatan Rogojampi – Kec. Srono – Kec. Muncar – Kec. Tegaldelimo (dari Banyuwangi sampai ke Tegaldlimo sekitar 2 jam). Nah, dari Tegaldelimo lanjut kearah Taman Nasional Alas Purwo (sekitar ½ - 1 jam). Akhir perjalanan di Pos Perhutani Taman Nasional Alas Purwo. Di sini mobil kita titipkan ke pihak Pos Perhutani. Untuk sampai ke Plengkung, kita harus carter jeep milik Perhutani. Harga sewanya sekitar 150rb – 250rb pulang pergi (tergantung nego).
2.   Dari Surabaya menuju Jember (sekitar 4-5 jam), lalu lanjut menuju ke timur selatan melewati Gunung Kumitir-Kalibaru-Glenmore-Genteng-Srono. Dari sini, rute nya sama dg poin 1 di atas.
3.   Dari Denpasar menuju Gilimanuk (sekitar 2-3 jam), menyebrang ke Pelabuhan Ketapang Banyuwangi, lalu rutenya sama dg poin 1 di atas. 

Selain berselancar, kita juga bisa berpetualang menembus hutan. Karena pantai Plengkung dikelilingi oleh hutan yang memberi tantangan bagi anda untuk menjelajahinya. Di sekitar pantai juga terdapat beberapa goa yang biasanya digunakan sebagian orang untuk melakukan “ritual” khusus. Sensasi-sensasi menantang akan selalu anda dapatkan di Pantai Plengkung. Namun, kesunyian dan kealamian Plengkung juga akan tetap menemani anda. Anda juga bisa beristirahat dan menikmati kicauan burung atau tingkah hewan lain di resor-resor yang didirikan disana.




Resor-resor di pantai Plengkung seperti Joyo’s camp atau Boby’s camp merupakan resor yang didirikan pihak swasta yang berkelas internasional. Meskipun begitu, bangunannya masih memanfaatkan kealamian dan kesunyian pantai Plengkung. Dengan makanan dan minuman sekelas hotel-hotel mewah di Bali, anda juga bisa memandang pantai Plengkung dengan leluasa untuk mengetahui kapan saat yang tepat untuk berselancar. Dengan rata-rata 100 dollar AS setiap hari, selama minimal tiga hari, wisatawan bisa menikmati senyapnya hutan, gulungan ombak, lengkap dengan akomodasi hotel berbintang.
Tapi, jika kamu ingin lebih irit, Wisma TNAP yang berada di Rawabendo bisa jadi pilihan meskipun agak jauh dari pantai. Disana juga ada warung-warung yg bisa jadi alternatif selain pesan makan di wisma. Anda juga bisa mengenyam sensasi lain disini, yakni kicauan burung, perilaku hewan, dan gemerisik gesekan dedaunan.
Pokonya seru....!!! jadi pengen kesana lagi.... ^.^



*tulisan ini juga dijadikan sebagai tugas matakuliah Branding

Bromo....???

Kalau denger kata Gunung Bromo, mungkin langsung terbayang dalam pikiran kita sebuah gunung api yang waah. Aksi vulkaniknya yang memukai dan pemandangannya yang menakjubkan, membuat kita puas berlama-lama disana.

Gunung Bromo adalah gunung "termuda" dari kompleks gunung api Tengger yang luas dan berumur ratusan ribu tahun. Gunung ini merupakan salah satu dari lima gunung api spektakuler yg wajib dikunjungi menurut http://id.travel.yahoo.com/jalan-jalan/117-lima-gunung-api-spektakuler-yang-wajib-dikunjungi


Kalau kalian mau berlibur kesana saat ini, kalian musti hati-hati dan jangan terkejut dengan keadaan disana. Karena kondisi Bromo saat ini berbeda dengan gambar di atas. Pasca meletus beberapa waktu yang lalu, kondisi Bromo masih belum stabil.


  Masih banyak abu vulkanik yang menutupi badan gunung.

Kawahnya pun telah memendek. Dan akan kita temukan kawah baru akibat erupsi beberapa waktu lalu.


Tapi itu semua gak akan ngurangin keindahan gunung Bromo kok. Kalian masih bisa menikmati dinginnya udara disana, berkuda, atau hal lain. Yang perlu diingat, kalian tidak boleh memasuki kawasan dalam radius 2 km dari pusat letusan atau kawasan puncak.