Seminar Media dan Minoritas

Apakah Wanita harus "Imut" dan "Feminin" saja?

08.49 Lailiya Nur Rokhman 5 Comments


“Refashioning the Korean Gender Dichotomy: Female performance in music videos by K-pop girlgroups”, membaca judul tulisan Sarah Lee ini saya jadi ingat ketika saya diajak teman untuk bertemu di salah satu restoran cepat saji Korea di daerah Jakarta Selatan. Awal masuk, telinga saya sudah disambut dengan suara merdu penyanyi wanita Korea dan saat melihat sekeliling untuk mencari teman saya, seketika mata saya terpaku sejenak pada layar plasma di belakang tempat duduk teman saya. Layar itu sedang memutarkan salah satu Musik Video (MV) grup penyanyi wanita Korea. Mereka menyanyi sambil menari dengan gemulainya. Entah kenapa seketika nafsu makan saya bisa dibilang menurun. Apalagi posisi duduk saya cenderung menghadap ke layar itu. Bukannya apa, tapi pada saat itu saya merasa agak malu. Bukannya saya malu karena postur tubuh saya yang lebih berisi daripada para penyanyi itu yaaa, tapi justru saya merasa malu karena melihat penampilan grup penyanyi wanita itu yang memakai pakaian minim, bisa dibilang mirip dengan pakaian renang two piece dan dengan gemulainya mereka menari. Menurut saya (saat itu), mereka seakan-akan terlihat menggoda kaum lelaki dengan pakaian dan gerak tubuh mereka. Apalagi saat salah satu member grup tersebut diperlihatkan mengedipkan mata dan mencium ke arah kamera. Bahkan sempat terlintas pertanyaan, apa semua MV korea seperti itu ya? Secara, saya tidak terlalu tau MV penyanyi atau grup wanita K-pop yang lainnya seperti apa.
Namun, saat membaca tulisan ini lebih lanjut, ada beberapa hal yang perlu saya garis bawahi. Sarah Lee, dalam tulisannya menjelaskan bahwa tidak semua grup K-pop wanita yang dia teliti menunjukkan penggambaran wanita seksi dan wanita penggoda saja. 

Seorang teman saya yang pernah bekerja dengan salah satu agensi musik K-pop ternama di Korea sempat bercerita pada saya bagaimana perekrutan, training hingga awal debut yang dilakukan oleh para calon penyanyi sebelum mereka melakukan debut. Dari situ saya tahu bahwa tidak mudah untuk menjadi seorang grup penyanyi K-pop. Ada standar tersendiri yang ditetapkan oleh agensi bagi grup K-pop ini. Tidak hanya bagi penampilan dan gerak mereka di panggung, bahkan perilaku mereka diluar panggung mulai dari cara berjalan hingga cara duduk dan ucapan pun ditata sedemikian rupa saat awal debut mereka. Mereka seakan menjadi diri mereka yang lain. Khususnya untuk grup wanita K-pop. Mereka tidak mendapat kesempatan untuk menjalani hidupnya sebagai diri mereka sendiri. Hal ini juga dikemukakan oleh Sarah Lee, dia menyebutkan bahwa wanita dalam MV K-pop saat ini dilihat sebagai "others".

Jika selama ini kita hanya melihat citra wanita sebatas imut dan seksi dalam MV penyanyi ataupun grup wanita K-pop, ternyata tidak demikian. Terdapat tiga penggambaran feminitas, yaitu imut, seksi, dan Kwansoon.  Istilah Kwansoon ini dipakai untuk melabeli pengambaran wanita pemberontak dan agresif. Terjadi pergeseran penggambaran wanita disini. Wanita tidak selamanya harus feminin dan tunduk pada tatapan penonton laki-laki heteroseksual. Meskipun stereotip gender dalam media masih mengintimidasi citra wanita, namun adanya penggambaran feminitas Kwansoon ini bisa menjadi awal untuk merubah penggambaran feminitas di media khususnya MV grup wanita K-pop.

Dan berbicara mengenai stereotipe wanita, khususnya dari gaya dan penampilan, mendadak saya kembali teringat perbincangan dengan Ibu melalui telpon beberapa bulan lalu. Sebenarnya bukan perbincangan yang terlalu serius, hanya komentar dan "nasihat" mengenai hijab yang saya kenakan ketika saya pulang beberapa waktu sebelumnya, tapi agak membuat saya berpikir ulang dengan perbincangan itu.
"Nduk (panggilan anak perempuan di keluarga Jawa. Ibu saya biasanya memanggil saya dengan sebutan ini hanya saat protes dan memberikan nasehat. Selebihnya, menggunakan nama saya) kalau bisa yo dijaga. Ikut kajian ya ikut kajian aja. Jangan sampek terlalu ekstrim lah. Boleh kerudungan lebar, bagus malah nutup dada, tapi ya jangan gede-gede banget, gamisnya juga jangan terlalu gombor ("longgar" dalam bahasa Jawa). Iya kalo ibu, lha kamu kan belum nikah. Jangan kayak ibu-ibu lah kerudung sama bajunya. Kalau penampilannya kayak gitu, mana ada yang mau? Mesti mikir-mikir dulu. Inget lho, kamu pernah gak jadi, jangan sampai kayak gitu lagi. Kamu gak pake niqob (cadar) kan di sana? Jangan ya..."
Saat itu saya hanya senyum dan tertawa kecil saja menanggapi ibu. Dengan sedikit penjelasan yang (menurut saya) bisa diterima oleh ibu. Tapi lama-lama saya berpikir, memangnya kenapa? apa yang salah dengan berhijab lebar dan gamis longgar? Kenapa ibu saya terlalu khawatir hanya karena saya belum menikah (dan pernah batal menikah) dengan penampilan saya yang seperti ini? Bukannya saya tidak suka dengan perhatian ibu saya, saya tahu jika beliau khawatir dengan anak perempuannya, tapi menurut saya ibu terlalu berlebihan dalam hal ini.

Jika penjelasan Sarah Lee sebelumnya mengenai stereotipe wanita Korea, menurut saya stereotipe wanita berhijab lebar bahkan bercadar pun masih negatif. Penggambaran di media dan apa yang sudah kita ketahui dari lingkungan sekitar kita sedikit banyak memberi gambaran bahwa wanita berkerudung lebar cenderung menyembunyikan sesuatu, atau wanita bercadar itu aneh, radikal, atau bahkan berhubungan dengan teroris. Yaaaa seperti kekhawatiran ibu saya tadi.

Dan bila kita mau melihat kembali, sebenarnya stereotipe ini tidak sepenuhnya benar. Saya memiliki tante yang menggunakan cadar dan dia baik-baik saja. Bahkan cadarnya tidak menghalangi profesinya sebagai seorang ahli akupuntur. Dia masih membuka klinik akupunturnya sampai sekarang meskipun dengan pasien khusus perempuan.

Menurut saya, kita (khususnya saya pribadi) harus mulai belajar mengubah pandangan mengenai penampilan seseorang. Ketika seorang perempuan berpenampilan maskulin, bukan berarti dia bukan perempuan baik. Perempuan tidak harus selalu feminin kan.. Tapi, ketika kita melihat seseorang berpenampilan feminin, bukan berarti juga dia sedang mencari perhatian. Atau ketika seseorang berpenampilan serba tertutup dan longgar, memakai hijab, bahkan memakai cadar, bukan berarti juga dia seseorang yang perlu kita takuti.



Referensi:

You Might Also Like

5 komentar:

  1. Sebetulnya agak mempertanyakan jika kwansoon itu diposisikan sebagai perlawanan atas citra feminin dan imut perempuan dalam media, khususnya di sini dalam konteks K-pop..karena seperti halnya citra feminin dan imut, kwansoon pun juga bentukan kan ya? Hanya jenis lain dari citra yang sebelumnya..yang perlu ditelusur justru bagaimana proses di baliknya seperti yang lail ceritakan. Bagaimana untuk bisa menjadi bintang k-pop mereka harus melewati serangkaian prosesi yang tidak memanusiakan mereka..

    BalasHapus
  2. Hal ini mengingatkan saya pada pembahasan yang lalu mengenai performative gender, dimana manusia diharuskan berperilaku sesuai gender, yang diekspektasikan oleh masyarakat. Oleh karena itu, timbullah tuntutan-tuntutan image tertentu kepada khususnya pelaku industri hiburan seperti girlband k-pop, jika ingin laku keras di pasaran.. pada akhirnya yang lepas dari image feminin ini juga tidak sepenuhnya lepas dari keimutan dan kefemininan tersebut menurut saya. Pun kalau benar-benar lepas, bukan jadi preferensi utama pemirsa.

    BalasHapus
  3. Sangat Setuju dengan pendapat mu yang ini mba lail:
    "Menurut saya, kita (khususnya saya pribadi) harus mulai belajar mengubah pandangan mengenai penampilan seseorang. Ketika seorang perempuan berpenampilan maskulin, bukan berarti dia bukan perempuan baik. Perempuan tidak harus selalu feminin kan.. Tapi, ketika kita melihat seseorang berpenampilan feminin, bukan berarti juga dia sedang mencari perhatian. Atau ketika seseorang berpenampilan serba tertutup dan longgar, memakai hijab, bahkan memakai cadar, bukan berarti juga dia seseorang yang perlu kita takuti."

    Tetapi walaupun demikian saya tidak menampik bagaimana saya ptibadi secara reflek masih sering menjadikan penampilan seseorang sebagai patokan dalam menilai seseorang..

    BalasHapus
  4. Saya melihat bahwa hadirnya Kwansoon membuktikan bahwa agensi-agensi girlband Kpop juga dapat memasarkan performa gender perempuan yang tidak mengikuti jalur mainstream, dan ini terbukti sukses di pasaran. Intinya perempuan tidak harus cute dan feminin, karena gender merupakan sesuatu yang dikonstruksikan, bukan bawaan dari lahir bahwa perempuan harus feminin dan laki-laki harus maskulin.

    BalasHapus
  5. Secara pribadi, saya merasa kecewa atas adanya stereotipe yang beredar di masyarakat bahwa perempuan yang berhijab lebar bahkan bercadar itu dikonotasikan secara negatif. Apalagi ditambah dengan penggambaran di media, sehingga sedikit banyak telah memberi kontribusi atas gambaran perempuan berkerudung lebar yang mana cenderung dipersepsikan menyembunyikan sesuatu, atau perempuan bercadar itu terkesan aneh, radikal, bahkan dihubung-hubungkan dengan isu terorisme. Stereotipe seperti ini jelas keliru, dan sangat disesalkan. Saya berharap mbak Lailiya ataupun perempuan berhijab lebar lainnya, dapat tetap istiqomah mengenakan hijab tersebut, meskipun di tengah bayang-bayang adanya stereotipe negatif di sekitar lingkungan mereka. Islam bukanlah agama teroris, save Islam, save muslimah berhijab lebar!
    #041, #SIK041

    BalasHapus

Kirimkan ini lewat Email
BlogThis!
Berbagi ke Twitter
Berbagi ke Facebook
Berbagi ke Google Buzz