Seminar Media dan Minoritas

Subversive Bodily Acts

02.04 Lailiya Nur Rokhman 5 Comments


gambar dipinjam dari

Jika pada bagian pertama dan kedua Butler membahas mengenai gender dan jenis kelamin sebagai sebuah “performa”, masalah heterosexsual matrix serta konstruksi media terhadap gender, pada bagian akhir dari buku Gender Trouble: Feminism and the Subversion of Identity, Butler menyajikan subversif tindakan tubuh. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Subversif adalah upaya di luar yang sudah ditetapkan atau upaya pemberontakan dalam merobohkan struktur yang telah ada.

Pembahasan ini dimulai dengan “The Body Politics” dari Julia Kristeva. Butler mengutarakan kritiknya terhadap ‘teori dimensi semiotik simbolik’ milik Kristeva yang mengekspos batas dari remesis Lacanian dan menawarkan lotus khusus feminine dari subversi hukum patriarki melalui bahasa. Yang dimaksud “Semiotik” disini adalah konstruksi realitas melalui makna simbolis, sedangkan “Simbolik” adalah hukum paternal yang menyebutkan bahwa semua struktur makna bahasa dibatasi oleh bahasa laki-laki.

Kristeva menantang narasi Lacanian yang mengasumsikan makna budaya membutuhkan represi dari hubungan utama untuk maternal body. Kristeva menambahkan bahwa bahasa puitis mewakili tubuh ibu (maternal body) secara tertulis, bukan dikontrol oleh bahasa laki-laki. Meskipun demikian, strategi Kristeva mengenai subversi justru diragukan oleh Butler. Menurut Butler, kesalahan utama dari teori Kristeva adalah subversi dari hubungan antara budaya dan sosok ibu. Selain itu Kristeva, menurut Butler, masih tetap mengakui bahwa semiotik adalah turunan dari simbolik, bahwa eksploitasi maternal body melampaui konstruksi budaya.

Butler berpendapat bahwa bagaimanapun juga konsep tentang wanita tidak lepas dari konstruksi sosial. Dalam pembahasan kedua "Foucault, Herculine, and the Politics of Sexual Discontinuity", Butler meminjam argumen Foucault yang mengatakan bahwa definisi dari wanita itu sendiri adalah hasil dari wacana dan tidak lepas dari pengaruh kekuasaan. Pembahasan ini juga berfokus pada pembicaraan mengenai pemikiran Foucault tentang biner gender (klasifikasi seks dan gender ke dalam dua bentuk yang berbeda, berlawanan dan terputus dari maskulin dan feminin). Foucault, menurut Butler, merasa perlu adanya dekonstruksi mengenai "sexed body" dan mencoba memahami bagaimana dinamika kekuatan biner.
Dalam hal ini Foucault mencontohkan dengan studi kasus mengenai Alexina/Herculine, seorang hermaprodit yang secara biologis dapat dikatakan sebagai perempuan namun menunjukkan karakteristik jenis kelamin sekunder sebagai laki-laki dan akhirnya memilih untuk menjadi laki-laki. Fokus dari Foucault adalah periode hidup dari Heculine.
Studi kasus ini juga pernah terjadi di Indonesia, seorang perempuan asal Boyolali bernama Aminah yang pada saat beranjak dewasa ternyata memiliki jakun dan ciri fisik laki-laki lainnya. (Selengkapnya baca ).
Butler mengatakan bahwa pembahasan mengenai biner gender tidak bisa dikesampingkan begitu saja. karena hermaprodit dan orang-orang yang mengalami biner gender secara fisiologis maupun biologis kemudian akan dilihat berbeda dan tidak dipahami sebagai seorang manusia juga. Penting kemudian adanya deskonstruksi mengenai faktor yang dapat menindas kaum biner gender.

Pada pembahasan ketiga, Butler membahas mengenai teori Monique Wittig mengenai "Bodily Disintegretation and Fictive Sex". Berangkat dari ungkapan Beauvior, "seseorang tidak dilahirkan sebagai wanita, melainkan menjadi seseorang", Butler mempertanyakan apa yang dimaksud dengan seseorang? bagaimana gender bisa terjadi jika demikian? hingga berujung pada pertanyaan apa "anak laki-laki" dan apa "anak perempuan" itu?
Beauvoir, menurut Butler, hanya berusaha menunjukkan bahwa definisi wanita merupakan hasil dari budaya, seperangkat makna yang diambil dari sebuah budaya, dan menjelaskan bahwa gender tidak selalu diperoleh ketika seseorang itu dilahirkan, berbeda dengan jenis kelamin.
Sejalan dengan yang dikatakan oleh Beauvior, Wittig menngklaim dua hal, pertama, kategori seks tidak invarian atau alami, dengan kata lain tidak ada alasan untuk membagi kategori yang disebut laki-laki dan perempuan. Menurut Wittig, “maskulin” dan “feminin”, “laki-laki” dan “perempuan” hanya ada dalam matriks heteroseksual. Hal ini dikuatkan oleh pendapat Butler yang mengatakan bahwa semua istilah tersebut merupakan naturalisasi untuk menjaga pola acuan tersembunyi dari kritik radikal. Klaim Wittig yang kedua, satu-satunya posisi yang "bergender" adalah perempuan dan lesbian bukan lagi dikatakan sebagai perempuan. Dalam hal ini, Butler mengkritik klaim dari Wittig. Menurutnya, Wittig menolak heteroseksual sebagai gender ketiga dan mengabaikan kemungkinan bahwa heteroseksualitas bisa jadi merupakan matriks dari heteroseksual itu sendiri.

Diakhir tulisannya, Butler mengatakan bahwa jenis kelamin seharusnya tidak ditafsirkan sebagai identitas yang stabil atau bagian dari berbagai tindakan yang tetap. Gender merupakan identitas yang tercipta dan dapat berubah seiring waktu.


Referensi:
Butler, J. (2007). Gender Trouble: Feminism and the Subversion of Identity Chapter 3. Routledge.
Sophia Softky. Subversive Bodily Acts

You Might Also Like

5 komentar:


  1. Sesuai dengan argumen Beauvior dan Wittig yang disebutkan oleh mba lail yang berpendapat bahwa kategori seks bersifat tidak invarian atau alami, dengan kata lain tidak ada alasan untuk menyamakan laki-laki dan perempuan karena secara biologis jenis kelamin laki-laki dan perempuan adalah jelas-jelas berbeda.
    Namun rupanya kini argumen tersebut telah banyak menuai perdebatan, karena diyakini bukan hanya gender tetapi sex itu juga bersifat cair dan socially constructed. Contohnya adalah adanya transexual. Jenis kelamin tidak lagi dapat dikatakan alami atau bawaan biologis karena kini sex atau jenis kelamin juga merupakan hasil bentukan dari masyarakat.
    Dikatakan :
    "Sex, like gender, is indeed socially constructed and can be changed".
    Sumber: https://www.autostraddle.com/its-time-for-people-to-stop-using-the-social-construct-of-biological-sex-to-defend-their-transmisogyny-240284/

    BalasHapus
  2. Dalam cerita tentang Alexina/Herculine, ada bagian di mana pada akhirnya matriks heteroseksual membuat orang memiliki identitas yang stabil. Di mana laki-laki harus berpakaian dan berperilaku selayaknya laki-laki, dan perempuan harus berpakaian dan berperilaku sebagaimana perempuan. Pada akhirnya, Alexina/Herculine ini bunuh diri. Meminjam dari pemikirannya Foucault, adanya ilmu kedokteran, keputusan hakim, dan dorongan agama (pendeta) lah yang berpengaruh terhadap kematian Alexina/Herculine. Faktor-faktor tersebut memosisikan gender/jenis kelamin sebagai sesuatu yang fixed, A ya A, B ya B.

    BalasHapus
  3. Sejujurnya aku masih aga bias dalan memisahkab konsep yang dikatakan sebagai gender dan jenis kelamin. Misalnya dalam pembahasan mengenai hermaprodit dimana seseorang mengalami karakteristik jenis kelamin sekunder yang berbeda dengan yang awal ia miliki. Namun kemudian pembahasaannya menjadi biner gender. Apa itu berarti menurut Butler tidak ada beda antara sex dan gender,bahwa keduanya sama-sama konstruksi sosial? Kemudian pada paragraf kedua dari terakhir lail,wittig menolak heteroseksual sebagai bentuk gender ketiga dan mengabaikan kemungkinan bahwa heteroseksualitas merupakan matriks dari heteroseksual itu sendiri. Aku kurang bisa nangkep maksudnya 😅 Terima kasih lail sudah berbagi

    BalasHapus
  4. Menarik juga teori Monique Wittig mengenai "Bodily Disintegretation and Fictive Sex". Berangkat dari ungkapan Beauvior, "seseorang tidak dilahirkan sebagai wanita, melainkan menjadi seseorang", Butler mempertanyakan apa yang dimaksud dengan seseorang? bagaimana gender bisa terjadi jika demikian? hingga berujung pada pertanyaan apa "anak laki-laki" dan apa "anak perempuan" itu?
    Beauvoir, menurut Butler, hanya berusaha menunjukkan bahwa definisi wanita merupakan hasil dari budaya, seperangkat makna yang diambil dari sebuah budaya, dan menjelaskan bahwa gender tidak selalu diperoleh ketika seseorang itu dilahirkan. Tapi menurut saya sendiri sih tak sepenuhnya dikonstruk dari budaya. Saya misalnya dilahirkan dan dibesarkan dalam budaya jawa yang menanamkan dan mendidik wanita ya feminim. Namun bisa jadi karena faktor hormon kerap kali berbagai selera dan kebiasaan saya cenderung maskulin. Any way saya belum begitu paham tentang teori Kristeva mbak Lail.. bisa minta diberi pencerahan lebih lanjutkah?

    BalasHapus
  5. Secara konseptual menarik memang membaca tulisan di atas, yang mana menunjukkan pemikiran para tokoh beserta pertentangan pemikiran di antara mereka. Akan tetapi, tulisan di atas masih terkesan membingungkan, karena tidak disertai dengan penjelasan pada tataran praktis. Begini saja, menurut Mbak Lailiya, contoh subversive/upaya merobohkan struktur yang telah ada itu seperti apa ya?; lalu, apakah Mbak pernah melakukan tindakan subversive dalam konteks gender?; kalau pernah, contohnya seperti apa?; kalau tidak pernah, alasan apa yang mendasari Mbak tidak pernah melakukannya?
    #041, #SIK041

    BalasHapus

Kirimkan ini lewat Email
BlogThis!
Berbagi ke Twitter
Berbagi ke Facebook
Berbagi ke Google Buzz