Seminar Media dan Minoritas

Bagaimana Aku Terlihat (dalam media)?

04.17 Lailiya Nur Rokhman 6 Comments


gambar dipinjam dari

Selama beberapa dekade ini, perempuan selalu terekspos secara fisik melalui media cetak dan visual. Sumita Sarkar dalam tulisannya, Media and Women Image: A Feminis Discourse menjelaskan bagaimana perempuan selalu dijadikan objek untuk penjualan segala produk konsumsi. Bahkan film dan televisi tak lepas dari penggambaran seorang perempuan. Berbagai media ini kemudian memunculkan apa yang disebut sebagai standar kecantikan untuk seorang perempuan. Tentu saja standar kecantikan yang dimaksudkan disini adalah kecantikan fisik. Muda, tinggi dan langsing adalah proyeksi perempuan dalam media. Tulisan Sarkar ini mengkritisi bagaimana media menggambarkan perempuan, khususnya di India, jika dilihat dari sisi teoretis.

Teori feminis berusaha untuk memulihkan masalah diri, citra dan identitas dengan konsep subjektivitas. Beberapa pakar seperti Weedon, Judith Butler, Foucault, Virginia Woolf, Lacan dan Mulvey memberikan pandangannya mengenai subjektivitas. Weedon mendefinisikan subjektivitas sebagai cara diri dalam memahami dunia melalui media populer; Butler berpendapat bahwa subversi terjadi melalui identitas yang ditampilkan secara berulang; Foucault mengatakan bahwa subjektivitas merupakan efek dari kekuasaan; sedangkan Lacan berpendapat bahwa perempuan akan kehilangan otonominya ketika dia menyadari bahwa dia adalah objek; dan Mulvey mengatakan bahwa apa yang laki-laki pandang tentang tubuh perempuan menahan identitas positif dari perempuan sebagai sesama manusia.

Penampilan ideal seorang perempuan di media menjadi perdebatan yang kompleks dan tak ada habisnya. Menurut wacana feminis, ada dinamika yang kompleks antara kekuasaan, ideologi, bahasa (baik simbolik maupun semiotik) dan praktek dalam konteks lingkungan sosial-budaya yang terlihat dalam permasalahan identitas gender. Menurut Sarkar (h. 49), media cetak ataupun visual dengan cara yang sama memberikan stereotip mengenai gambaran perempuan ideal berdasarkan trend serta persepsi populer kelompok dominan dan itu jauh dari standar tubuh yang sehat.

Penggambaran tubuh ideal di media ini, menurut Sarkar (h. 50), menyebabkan beberapa perempuan menjadi terobsesi untuk menjadi seorang perempuan ideal. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Frauke mengenai seorang perempuan yang terobsesi dengan kosmetik untuk menampilkan wajah yang (menurut budaya populer) sempurna dan cantik sehingga dirinya menonjol dan mendapatkan sorotan dibanding yang lainnya.

Tidak hanya perempuan yang diteliti oleh Frauke, beberapa perempuan lain juga terpengaruh dan terobsesi untuk menjadi perempuan ideal seperti yang digambarkan dalam media. Sebut saja fenomena “Barbie real life”. Kemunculan boneka Barbie sebagai gambaran perempuan ideal membuat sebagian penggemarnya cenderung mengubah penampilannya menjadi seperti Barbie baik melalui makeup hingga melakukan bedah plastik.(selengkapnya di , , , atau ). 

Penggambaran perempuan kemudian selalu diidentikkan dengan kecantikan dan keindahan tubuh. Proyeksi tubuh perempuan dalam media ini kemudian yang menyebabkan ‘identitas palsu’ dan perangkap rekonstruksi yang nyata untuk melanggengkan pandangan patriarki.
Sarkar (h. 51) dalam tulisannya ini mencontohkan bagaimana penggambaran perempuan di televisi baik dalam iklan ataupun program televisi justru memenuhi kesenangan visual laki-laki saja. Hal ini dikarenakan perempuan digambarkan melalui iklan seksis yang menunjukkan keindahan tubuh perempuan dengan pakaian yang memiliki belahan dada cukup besar, atau perempuan yang dibungkus ular dengan pose bugil, bahkan seorang supermodel ditampilkan melepas pakaiannya satu persatu saat menuruni tangga di sebuah rumah mewah hingga dalam mobil Citroen barunya dan yang pasti kesemuanya menunjukkan tubuh ideal (kurus, tinggi, putih). Penggambaran ini justru memberlakukan seksisme, menegaskan kembali objektifikasi dan komoditisasi pada citra serta tubuh perempuan.

Selain itu, mulai muncul tagline-tagline yang menyebutkan bahwa tubuh ideal itu adalah tubuh ramping dan ramping itu sehat, gaya hidup melalui promosi pusat kebugaran, sedot lemak, dan berbagai prosedur kesehatan lain. Tagline-tagline ini juga tidak lepas dari tujuan membentuk wanita ideal berdasarkan kriteria dalam media. Menurut Sarkar, standar ideal seorang perempuan yang ditampilkan dalam media sebenarnya tidak realistis dan cenderung menampakkan hal tersebut seolah-olah normal dalam hidup perempuan ideal.

Padahal apa yang digambarkan oleh media tidak selamanya seperti yang terlihat. Sebut saja, beberapa kasus kematian perempuan yang disebabkan oleh prosedur kecantikan yang dilakukannya (cek ini) atau penampilan yang menurut media memenuhi standar cantik dan ideal justru menimbulkan bullying dan berakhir pada kematian (cek ini).

Sarkar (h. 53) dalam tulisan ini menyebutkan bahwa persepsi, proyeksi dan penerimaan perempuan di India jauh lebih kompleks dibandingkan di Barat. Dalam media India, proyeksi perempuan sebagai acuan atau panutan cenderung pada dua rangkaian, perempuan baik bak dewi atau perempuan terkutuk. Film, iklan, televisi merekonstruksi citra perempuan dengan lebih mementingkan penampilan dan keindahan. Perempuan diproyeksikan sebagai sosok yang lembut, keibuan, penuh cinta kasih untuk iklan produk rumah tangga. Namun di sisi lain, perempuan juga diproyeksikan sebagai sosok yang sopan, pintar, dan berbagai sifat yang melambangkan kekuatan perempuan dengan mengarah pada ranah privasi atas tubuh perempuan. Sarkar (h. 54) berpendapat bahwa budaya dan nilai eksposisi kepada masyarakat telah diambil oleh media demi kepentingan ekonomi. Baik dalam produk rumah tannga, produk kecantikan, telekomonikasi, IT, makanan ataupun pakaian, tubuh wanita telah diekspos semaksimal mungkin untuk memasarkan barang tersebut. Media cetak dan visual memproyeksikan, mengkomoditi, mengkomersialisasi dan merekonstruksi citra perempuan semata-mata untuk menggiring perempuan agar mengikuti apa yang ditawarkan media.

Tidak hanya keindahan tubuh, wajah baru dari seorang model muda serta sensualitasnya dapat menjadikan nilai lebih (menurut media) dalam mempromosikan suatu produk. Penggambaran dan komoditisasi perempuan dalam media  justru menindas dan mengeksploitasi perempuan itu sendiri. Media menyajikan tanda yang dianggap sebagai sebuah kebenaran dan pada akhirnya menutupi realitas sesungguhnya.



Referensi:
Media and women image: a feminist discourse, Sarkar, 2014, hal. 48-58

You Might Also Like

6 komentar:

  1. Setelah membaca tulisan mba lail, aku jadi berfikir mba..Ketika perempuan memutuskan untuk mengikuti trend yang ada dalam media,fashion misalnya yang beberapa ahli katakan menyebabkan ‘identitas palsu’ dan perangkap rekonstruksi yang nyata yang mana hal ini melanggengkan pandangan patriarki.

    Apakah benar demikian mba? Menurut ku, ketika perempuan mengambil sebuah keputusan dan keputusan itu sudah dipertimbangkan alasannya, contohnya misalkan keputusan untuk menggunakan rok mini walaupun fashion atau trend rok mini kerap ditayangkan di media sebagai bentuk pemaknaan yang sexy dan lain sebagainya. Tetapi alasan dia menggunakan rok mini bukan karena dia ingin menarik perhatian laki-laki tetapi sebagai wujud rasa kepercayaan diri dia sebagai perempuan yang tidak harus menutupi segala kekurangan dibalik pakaiannya, lantas bukankah ini sebagai bentuk pendobrak kekuasaan patriarki yang menciptakan definisi kesempurnaan perempuan mba, bagaimana menurut mba lail?
    Thank you mba :)

    BalasHapus
  2. Mengenai standar ideal perempuan dalam media yang cenderung ditampilkan tidak realistis, namun seolah-olah normal, berarti itu sudah menjadi hipperealitas gambaran perempuan dalam iklan yah Mba? Dan kira-kira, apa yah solusinya agar kita sebagai perempuan gak ‘memakan’ begitu saja apa yang disajikan media? Kemudian, sekarang kan kita sudah memasuki era media sosial, kira-kira munculnya media sosial memberikan pengaruh yang sama gak dengan iklan dalam mengonstruksi tubuh ideal, khususnya bentuk tubuh ideal perempuan? Terima kasih reviewnya, Mba Lail

    BalasHapus
  3. Lail sedikit mengoreksi,cmiiw,agaknya yang ditulis Sarkar adalah komoditisasi,bukan komodifikasi,karena ada perbedaan makna antara keduanya. Tapi memang tulisan Sarkar ini jleb jleb ya,sebagai perempuan bertubuh alternatif (baca : ga kurus),aku amat menghayati tiap kalimat yang ditulisnya. Seolah ada yang belain gitu,ciee ;) Sudah semestinya lah kita perempuan bisa menginternalisasi kecantikan dengan versi kita sendiri,ga apa beda sama cantiknya orang juga. Karena cantik ga melulu tentang fisik kan ya,itu mungkin ya ga dibahas oleh Sarkar..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih mbak hanni koreksinya..... akan aku perbaiki

      Hapus
  4. Menarik ya tesis yang dikemukakan Sarkar bahwa persepsi, proyeksi dan penerimaan perempuan di India jauh lebih kompleks dibandingkan di Barat. Dalam media India, proyeksi perempuan sebagai acuan atau panutan cenderung pada dua rangkaian, perempuan baik bak dewi atau perempuan terkutuk. Namun semua itu merupakan pengaruh dari budaya timur yang berbeda dengan budaya barat. Bisa jadi Budaya timur memiliki citra gender yang sama.

    BalasHapus
  5. Ketika membaca tulisan berjudul ‘Bagaimana Aku Terlihat (dalam Media)?’, deskripsi awal saya atas isi dari tulisan di atas, menjelaskan mengenai gambaran sosok laki-laki maupun perempuan di media, namun dugaan deskripsi awal saya ini ternyata tidak terlihat pada isi/body tulisan. Mbak Lailiya hanya menjabarkan bagaimana perempuan terekspos secara fisik melalui media. Hello, bukannya laki-laki juga terekspos secara fisik di media. Kenapa Mbak tidak menjabarkan tentang eksploitasi dan standar tubuh ideal yang dilekatkan pula bagi laki-laki? Maaf, apakah karena Mbak perempuan, sehingga hanya punya empati atas eksploitasi tubuh perempuan?, seharusnya Penulis memiliki sifat dan sense yang adil dalam menjabarkan eksploitasi tubuh manusia oleh media, meskipun buku/chapter yang di-review terkait dengan eksploitasi perempuan India di media.
    #041, #SIK041

    BalasHapus

Kirimkan ini lewat Email
BlogThis!
Berbagi ke Twitter
Berbagi ke Facebook
Berbagi ke Google Buzz