Seminar Media dan Minoritas

Minoritas, bukan hanya sekedar Kuantitas

02.16 Lailiya Nur Rokhman 4 Comments


Istilah minoritas bukan hanya sekedar masalah kuantitas, ras, agama, atau kebangsaan. Wirth (dalam Hacker & College, 1951) menyebutkan bahkan kelompok minoritas bukanlah sekedar sebuah konsep statistik, atau istilah yang menunjukkan sebuah alienasi. Lebih dari itu, diskriminasi dan keterasingan menjadi faktor yang menyebabkan adanya minoritas.
Hacker & College (1951) secara sederhana mendefinisikan kelompok minoritas sebagai 
sekelompok individu yang disebabkan oleh karakteristik fisik atau/dan budayanya, diasingkan dan menerima perlakuan yang berbeda dan cenderung tidak adil dari lingkungannya, oleh karena itu mereka menganggap diri mereka sendiri adalah objek diskriminasi kolektif. 
Hanya saja, sebagian individu dari kelompok minoritas ini justru tidak menyadari bahwa dirinya menerima diskriminasi secara kelompok atau mereka sebenarnya menyadari diskriminasi yang terjadi namun menganggap hal itu adalah sesuatu yang wajar.

Istilah minoritas kemudian bukanlah sesuatu yang tidak bersifat absolut, namun tergantung pada sudut pandang seseorang. Seseorang bisa menjadi kelompok minoritas atau kelompok dominan di waktu yang bersamaan. Menurut Hacker & College (1951), terkadang istilah atau ciri kelompok minoritas yang disematkan kepada seseorang justru menjadikan dia merasa bahwa dirinya adalah kelompok minoritas, padahal sebelumnya dia tidak menyadarinya. Sebagai contoh, gaya penulisan berita tentang kasus pemerkosaan yang cenderung menyebutkan kaum wanita yang menjadi sebab terjadinya kasus dan pemilihan kosa kata yang terkesan vulgar, menjadikan korban pemerkosaan sebagai kaum minoritas.

Sebuah studi yang dilakukan oleh Said (1978) mengenai bagaimana pandangan masyarakat Barat (Eropa dan Amerika Serikat) terhadap masyarakat Timur. Lila Abu-Lughod (2001) dalam esainya Orientalism and Middle East Feminist Studiest mengkritisi studi yang dilakukan oleh Said. Menurut Abu-Lughod (2011), studi yang dilakukan oleh Said ini membawa pengaruh terhadap gender Timur Tengah dan kajian tentang perempuan, diantaranya: 

  • Bisa membuka kemungkinan bagi yang lain untuk mengeksplorasi wacana gender dan seksualitas orientalism itu sendiri, 
  • Memberikan alasan yang kuat untuk ekspansi penelitian sejarah dan antropologi yang melampaui stereotype mengenai wanita Muslim atau Timur Tengah, 
  • Memicu pemeriksaan ulang politik Timur atau Barat, 
  • Studi ini justru melanggeng stereotip aneh yang beredar dalam masyarakat Barat mengenai masyarakat Timur.

Abu-Lughod (2011), juga mengatakan bahwa Said tidak berfokus pada rezim yang menindas masyarakat Timur, khususnya kaum wanita meskipun dia mengkritik imperialism Barat dan kegagalan bangsa Timur.

Pandangan-pandangan yang dimiliki oleh kelompok dominan terhadap kelompok lain yang berbeda inilah yang kemudian menyebabkan adanya perlakuan diskriminatif dan munculnya kelompok minoritas. Allport (1954), memberikan istilah “Scapegoats” (pengkambinghitaman) kepada kelompok minoritas yang mengalami diskriminasi baik secara fisik maupun mental. Scapegoats terjadi sebagai sebuah bentuk prasangka dan kemarahan terhadap orang lain. Teori Scapegoats menjelaskan bahwa diskriminasi terhadap kelompok minoritas sebagai proyeksi dari sikap bertahan kelompok dominan yang menganggap bahwa kelompok di luar kelompok adalah salah dan harus dihukum. Contohnya, kejadian yang dialami oleh Ahmed Mohamed, seorang siswa MacArthur High School, yang pada 2015 lalu sempat ditangkap atas tuduhan mengirimkan sebuah benda yang disangka bom ke sekolah, padahal benda tersebut adalah jam elektronik sebagai hadiah pada gurunya. Ahmed Mohamed sempat dibawa ke kantor polisi, diambil foto dan sidik jarinya tanpa sepengetahuan orang tuanya. Sebagai kelompok minoritas Muslim di Eropa, kasus ini membuat Ahmed merasa bahwa dirinya adalah korban diskriminasi dan menjadi kelompok minoritas di lingkungan tempat tinggalnya.

Selain teori Scapegoats, adapula Teori Dominasi Sosial yang meneliti tentang bagaimana seseorang mengorganisir dirinya sebagai kelompok pada tingkatan sosial tertentu. Menurut Sidanius & Pratto (2012), SDT menjelaskan bahwa setiap orang memiliki kecenderungan untuk membuat tingkatan dalam masyarakat dan setiap orang memiliki kedudukan berbeda di dalamnya. 

SDT mengasumsikan tingkatan atau hierarki sosial yang dibuat oleh setiap orang bukan hanya hasil diskriminasi,penggunaan kekuasaan dan intimidasi dari beberapa tingkatan, baik itu secara individu, organisasi, maupun proses kolaborasi antar kelompok, tetapi juga dibentuk oleh legitimizing myths. (Sidanius & Pratto, 2012)
Legitimizing myths adalah kesepakatan bersama atas nilai, kepercayaan, stereotip, dan ideologi budaya. SDT membagi legitmizing myths dalam dua jenis fungsional, yaitu pertama, legitimizing myths yang meningkatkan legitimasi (Hierarchy-enhancing legitimizing myths), misalnya saja segala macam bentuk rasisme, stereotip, seksisme, dan perbedaan kelas yang disematkan kepada negara-negara "dunia ketiga". Kedua, legitimizing myths yang melemahkan legitimasi (Hierarchy-attenuating legitimizing myths). Contohnya, doktrin politik seperti demokrasi sosial, sosialisme, dan komunisme, doktrin keagamaan, doktrin budayawan seperti hak-hak universal manusia, dan hak asasi manusia. (Sidanius & Pratto, 2012)

SDT membagi masyarakat ke dalam dua tingkatan, yaitu kelompok sosial atas atau dominan, dan kelompok sosial bawah atau subordinat atau yang biasa disebut kelompok minoritas. Adanya tingkatan ini terbentuk berdasarkan tiga sistem stratifikasi, yaitu: umur (age system), gender (gender system), dan kewenangan (arbritary system). Seseorang dengan usia lebih tua akan memiliki hak istimewa dibandingkan yang lebih muda, begitupun ras, gender, suku, kelas sosial, atau agama tertentu akan lebih memiliki hak istimewa dibandingkan yang lain. Sebagai contoh, dalam budaya Jawa yang menganut Patriarki, laki-laki dianggap memiliki kekuasaan lebih dibandingkan perempuan. Penggambaran ini juga mempengaruhi pembagian peran antara laki-laki dan perempuan dalam masyarakat Jawa. Perempuan yang dianggap lemah, kemudian digambarkan harus berada di dalam rumah dengan pekerjaan rumah tangga. Sedangkan laki-laki dikaitkan dengan pekerjaan luar rumah.

Jika dilihat dari fenomena saat ini, penggambaran dari teori ini tidak sepenuhnya berlaku dalam masyarakat. Misalnya saja sistem gender, perempuan tidak lagi sepenuhnya berada di area lemah seperti yang kebanyakan digambarkan. Adanya wanita pekerja atau wanita karir, kemudian menciptakan satu kelompok tersendiri dalam hierarki yang dijelaskan oleh Teori Dominasi Sosial. Di sisi lain, fenomena wanita pekerja juga tidak berlaku dalam pandangan Hacker & College (1951) mengenai kelompok minoritas khususnya perempuan dari kalangan bawah. Wanita pekerja, meskipun dia berasal dari ekonomi yang lebih rendah dari kaum dominan lain, dia bisa berada pada kelompok dominan ketika dia berkuasa sepenuhnya atas dirinya, pendapatan yang dia peroleh, bahkan atas diri suaminya dikarenakan suaminya tidak bekerja. Hal ini pula yang disebutkan di awal bahwa seseorang bisa menjadi kelompok minoritas atau kelompok dominan pada saat yang bersamaan. 
Jakarta, 19 Februari 2017. 16:01



Referensi:

You Might Also Like

4 komentar:

  1. Wow tulisannya bagus mbak Lail, enak bacanya dan mudah dimnegerti. Tapi kalau dalam konteks perempuan sebagai minoritas, kira-kira apa yah yang membuat tatanan hierarki berubah, sehingga perempuan tidak lagi sepenuhnya dianggap sebagai pihak yang lemah?


    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau sepemahamanku, adanya perlawanan dari kaum minoritas bisa membuat tatanan hierarki berubah. Kalau untuk perempuan sendiri, adanya pergeseran makna gender dan pandangan dari sebagian kaum wanita yang menganggap dirinya superior dan mandiri dibanding laki-laki juga menjadikan perempuan tidak lagi sepenuhnya dianggap sebagai pihak yang lemah. Seperti yang aku contohkan sebelumnya di atas, fenomena wanita pekerja misalnya.
      Meskipun tidak sedikit juga yang beranggapan perempuan selalu berada di pihak yang lemah.

      Hapus
  2. Baik sekali tulisannya mba lail, namun sama dengan Farisha, perlu ditekankan juga bahwa SDT fokus pada hubungan intergrup, bukan hubungan interpersonal.

    BalasHapus
  3. Tulisan yang bagus Mbak Laili. Ada beberapa yang sudah diberikan penegasan sebagai fokus tulisan oleh Mbak diantaranya:

    minoritas: sekelompok individu yang disebabkan oleh karakteristik fisik atau/dan budayanya, diasingkan dan menerima perlakuan yang berbeda dan cenderung tidak adil dari lingkungannya, oleh karena itu mereka menganggap diri mereka sendiri adalah objek diskriminasi kolektif.

    Scapegoats : diskriminasi terhadap kelompok minoritas sebagai proyeksi dari sikap bertahan kelompok dominan yang menganggap bahwa kelompok di luar kelompok adalah salah dan harus dihukum.

    Masih agak binggung mencari SDT itu apa awalnya hehe Social Dominance Theory(SDT)atau Teori Dominasi Sosial yang juga diberi penanda oleh Mbak.. jadi SDT adalah tingkatan atau hierarki sosial yang dibuat oleh setiap orang bukan hanya hasil diskriminasi,penggunaan kekuasaan dan intimidasi dari beberapa tingkatan, baik itu secara individu, organisasi, maupun proses kolaborasi antar kelompok, tetapi juga dibentuk oleh legitimizing myths. Menarik ya kalau dilihat dengan berbagai ideologi, seperti ideologi komunisme dan sosialis apakah SDT ini bisa dipergunakan untuk menelaahnya ya Mbak? mengingat berbeda dengan ideologi kapitalis misalnya ada tingkatan. Terima kasih.

    BalasHapus

Kirimkan ini lewat Email
BlogThis!
Berbagi ke Twitter
Berbagi ke Facebook
Berbagi ke Google Buzz