story

First _ _ _ _? ? ?

22.47 Lailiya Nur Rokhman 0 Comments

Sejenak mataku terpaku pada sesosok buku kuning yang rasanya tak asing bagiku.
Hei, bukankah itu diaryku? Sejak kapan dia disini? ?
Ku telusuri lembar demi lembar, ku baca kata demi kata, tak henti tanganku mengikuti baris demi baris. Tak jarang bulu kudukku dibuat tegak olehnya.
Hoooo. . . Aku tertawa dalam hati, tak kusangka aku pernah seperti ini. .

Dan aku terpaku pada sebuah memoar yang bisa dibilang manis tapi menyakitkan. Sebuah sajak yang aku buat kala aku merasa sebuah kata yang mungkin bagi banyak orang adalah kebahagiaan, tapi bagiku (saat itu) adalah sebuah belenggu yang membuat aku tersiksa. Ya, cinta pertama bagi banyak orang adalah sesuatu yang manis dan tidak mudah dilupakan. Aku tak menyalahkan sepenuhnya, tapi bagiku cinta pertama tak harus menjadi sebuah kenangan manis yang harus kita rengkuh selamanya. Mereka boleh kita tengok kembali namun kita tidak bisa selalu membawa bayang-bayangnya kemanapun kita melangkah.

Ku kutip kembali catatan berkesan yang pernah aku baca (aku lupa dari mana) dan ku tulis kembali dalam diaryku itu,

Bagiku mencintai adalah proses memahami dan merelakan (Aku setuju akan hal ini). Mungkin terlalu sederhana untuk mengungkapkan makna cinta. Sebab, bagi banyak orang cinta adalah kesetiaan, dan setia berarti menyertai selamanya. Lalu apakah cita harus memiliki? Kurasa tidak, sebab cukup dengan merasakan cinta, maka hadirlah cinta itu. Menurutku, memenjarakan cinta adalah membunuh kemerdekaan. Sebab cinta adalah awan yang mengembara bebas untuk singgah semaunya dimana saja.
Sebagaimana bunga diantara dedaunan yang menguncup dan bersemi di akhir musim, aku tak perlu memilikinya untuk dapat mengungkapkan perasaan cinta atau mencerabutnya, aku miliki sendiri, aku ciumi, lalu wangi menebar, keindahan menerawang. Untuk apa kalau kemudian bunga itu layu, berpisah dengan kesegaran dedaunan, terenggut dari perasaan nyaman, jika sesudah itu paling-paling aku membuangnya.
Membuang cinta? ? Ah tidak, aku tidak akan pernah mau. Bagiku hanya cinta yang cukup untuk cinta.
Yaaa. . .hanya cinta yang bisa mencintai cinta, sebagaimana cinta Yang Maha Cinta untukku dan kita semua. .
~Selamat datang cinta**~

Sungguh indah melihatnya, sungguh terpaku aku dibuatnya. Dan aku menyetujuinya. Bagiku memaksakan sesuatu untuk menjadi milik kita akan lebih sakit dibandingkan ketika kita melalui proses mendapatkan apa yang kita inginkan walaupun pada akhirnya dia tidak bisa menjadi milik kita. 
Akan lebih mudah merelakannya saat kita telah melalui proses yang kita ingin daripada sebuah proses yang penuh keterpaksaan. Sesuatu yang dibilang cinta tak harus selamanya menjadi beban yang harus kita rengkuh. Mencintai cinta membuat kita memahami dan merelakan kemana cinta melangkah.

Memori-memori itu kembali terputar dalam benakku. Namun hanya sejenak, karena kemudian aku tersenyum melihat apa yang aku peroleh sekarang. Semua begitu indah. . Tak kan ku benci kenangan yang telah singgah dalam hidupku. Namun tak juga ku bawa serta dia selalu bersamaku. Dia hanya bagaikan sebuah ruangan dengan pintu tertutup, yang boleh saja aku buka hanya untuk menengoknya tanpa perlu masuk lebih jauh. Mengembangkan senyum di depannya dan kemudian menutupnya kembali.
Dan hanya saran dariku, mencintai cinta karena-Nya lebih indah dibanding mencintai cinta karena keterpaksaan dan keinginan semata. . .

**dikutip dari sebuah cerpen dalam majalah Annida dengan sedikit pengubahan. Tahun dan edisi sudah lupa. . (maaf). Tapi makasih buat penulisnya, sajak yang sederhana namun begitu indah. :)

You Might Also Like

0 komentar:

Kirimkan ini lewat Email
BlogThis!
Berbagi ke Twitter
Berbagi ke Facebook
Berbagi ke Google Buzz