story

'no ID caller'

06.30 Lailiya Nur Rokhman 0 Comments

Kembali kudapati layar handphoneku menunjukkan  'no ID caller'. . .
Ini sudah yang ketujuh kalinya dalam 2 hari ini. Dan sekali lagi tanpa suara, tanpa jawaban, yang terdengar hanya desahan nafas, dan kemudian terputus tiba-tiba. 
Aku semakin penasaran sekaligus takut. Sudah kucoba mengabaikan deringan itu, namun rasa penasaran yang semakin membuncah menggerakkanku untuk mengangkatnya. Dan kembali kudapati perlakuan yang sama dengan telepon-telepon sebelumnya.

Risih!
Itu yang aku rasakan saat ini. Setiap aku ke kampus, aku seakan merasakan ada mata yang mengawasi gerak-gerikku. Entah aku menjadi semacam paranoid atau apa, namun rasa itu semakin kuat dari hari ke hari.  'no ID caller' juga masih sering kudapati di layar handphoneku, meski saat ini lebih sering aku abaikan. Dan yang menimbulkan tanda tanya adalah, seakan dia tahu jadwal kuliahku. Tak pernah kudapati   'no ID caller' saat aku di kelas.

Semakin aneh dan semakin membuatku sebal. Meskipun hanya telepon, namun ini membuat penasaran yang teramat sangat. Aku ingin tahu siapa orang "kurang kerjaan" yang selalu menelfonku akhir-akhir ini.

"Mungkin penggemar rahasiamu?" Sarah terkekeh saat aku menceritakan 'no ID caller' kepadanya.

"Aku serius!", seraya kujitak kepalanya.

Adnan yang berada disitu bersama kami hanya mengerutkan dahinya seraya memegang dagunya. Ini tandanya dia lagi berfikir. Saat dia tahu aku menginginkan tanggapannya, dia hanya menjawab dengan bahunya yang terangkat.

Aaaah. . . Aku semakin penasaran dibuatnya. Meskipun kedua sahabatku ini menyuruhku untuk tidak terlalu memikirkannya, namun masih saja  'no ID caller' memenuhi pikiranku.

Tapi kali ini lain!
Meskipun kali ini aku tak sengaja mengangkatnya setelah mengacuhkannya beberapa kali karena lelah, akhirnya 'kestria' kita menyerah. Ia mengeluarkan kata-katanya. Ia bicara sodara-sodara. . Akhirnya setelah sekian lama aku  penasaran, kali ini aku mendengarkan juga bagaimana suara sang 'no ID caller' .

"Hai. . ." hening beberapa lama.

"Maaf kalau aku udah lancang dengan menelfonmu tanpa kata. Aku hanya ingin mendengar suaramu saja. Mungkin kau tidak ingat denganku, namun aku sudah lama mengenalmu dan memperhatikanmu. Aku. . ." kata-katanya meluncur begitu saja.

Aku hanya terdiam hingga dia selesai bicara, meskipun aku tahu sulit bagi dia untuk ngungkapin semuanya.
Sejenak aku tersenyum dan aku merasa dia melihat senyumku itu, karena disaat yang sama aku merasakan desahan nafas lega dari seberang.

"Kamu mau kan memaafkanku dan berteman denganku? Kita mulai dari awal dan aku sungguh-sungguh minta maaf dengan ketidaknyamanan yang sudah aku perbuat, Kayla. Aku hanya ingin berteman denganmu, tapi aku bingung harus memulainya dari mana"

"Baiklah, aku memaafkanmu. Tapi dengan 1 syarat, kamu harus menemuiku hari minggu besok di Altea cafe. Kita mulai dari awal, dan aku anggap tidak ada apapun sebelumnya." ucapku
Dan dia menyetujuinya.

"Lebih mudah bagiku untuk memulai pertemanan daripada aku harus melanjutkannya sebagai musuh", gumamku sambil tersenyum.

"Kita mulai dari awal lagi yaaa. . Hai, namaku Kayla. ." sapaku riang

"Aku Ken, aku anak Pak Sasongko, rekan bisnis ayahmu di KL dulu. Kita pernah bertemu saat ayahku menjamu keluargamu 10 tahun yang lalu. Maafkan aku tidak bilang sebelumnya", jawabnya diseberang.

Dan aku terpaku untuk kesekian kali karena sesungguhnya ia adalah pangeran impianku semasa kecil. . . .
*****

You Might Also Like

0 komentar:

Kirimkan ini lewat Email
BlogThis!
Berbagi ke Twitter
Berbagi ke Facebook
Berbagi ke Google Buzz